Sabtu, 28 April 2012

makalah manajemen pendidikan


MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN


MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah:  Manajemen Pendidikan
Dosen Pengampu: Dr. H. Fatah Syukur NC, M.Ag




                                                                                                                






Disusun oleh:
Mustaghfiroh             093211044



FAKULTAS  TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012
MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN

       I.            PENDAHULUAN
Dewasa ini studi tentang manajemen kurikulum semakin mendapat perhatian dari kalangan ilmuwan yang menekuni bidang pengembangan kurikulum, teknologi pendidikan dan administrasi pendidikan. Studi ini diangap menempati bagian terpenting dalam studi pengembangan kurikulum dan administrasi pendidikan. Hal ini wajar, sebab kurikulum adalah komponen yang penting dan merupakan alat pendidikan yang sangat vital dalam kerangka system pendidikan nasional. Oleh sebab itu setiap institusi pendidikan baik formal maupun nonformal, harus memiliki kurikulum yang sesuai dan serasi, tepat guna dengan kedudukan, fungsi dan peranan serta tujuan lembaga tersebut.
Oleh karena itu, manajemen kurikulum sangat penting untuk kelancaran proses belajar mengajar. Maka, penulis akan mengulas sedikit tentang manajemen kurikulum.

    II.            RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang:
a)      Apa pengertian manajemen kurikulum pendidikan?
b)      Apa manfaat manajemen kurikulum pendidikan?
c)      Apa saja ruang lingkup manajemen pengembangan kurikulum?
d)     Bagaimana penerapan manajemen kurikulum dan system pembelajaran?




 III.            PEMBAHASAN
A.    Pengertian manajemen kurikulum
Secara etimologi, “manajemen ” berasal dari kata to manage yang berarti mengatur. Sedangkan secara terminology, ada beberapa definisi tentang manajemen yang dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain:
a.       Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Hasibuan).
b.      Management is district process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human being and other resourcess. (GR Terry)
Manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.
c.       Management is getting things done through people. In bringing about this coordinating of group activity, the manager plans, organizes,staffs, direct, and control the activites other people. (Harold Koonts dan Cyril O’Donnel)
Manajemen adalah usaha mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. Dengan demikian manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan pengendalian.
d.      Management is general  refers to planning, organizing, controlling, staffing, leading, motivating, communicating, and decision making activities performed by any organization in order to coordinate the varied resources of the enterprise so as to bring an efficient creation of some product or service. (Andrew F.Sirkula)
Manajemen pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, pemotivasian, komunikasi dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengorganisasikan berbagai sumber daya yang dimiliki perusahan sehingga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara efisien.[1]
Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu proses melaksanakan fungsi-fungsi manajemen untuk mencapai tujuan organisasi yang efektif dan efisien.
Istilah  kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata curir yang berarti “pelari” dan curere yang berarti “ tempat berpacu”, sehingga curriculum diartikan “ jarak yang harus ditempuh oleh pelari” (dalam istilah olah raga). Sedangkan dalam istilah pendidikan diartikan sebagai kumpulan mata pelajaran yang harus ditempuh anak/peserta didik guna memperoleh ijazah atau menyelesaikan pendidikanya.[2]
Kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Berdasarkan program pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai  dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, dengan program kurikuler tersebut, sekolah atau lembaga pendidikan menyediakan lingkungan pendidikan bagi siswa untuk berkembang. Itulah sebabnya, kurikulum disusun sedemikian rupa yang memungkinkan siswa melakukan beraneka ragam kegiatan belajar. Kurikulum tidak terbatas pada jumlah mata pelajaran, namun meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa, seperti bangunan sekolah, alat pelajaran, perlengkapan sekolah, perpustakaan, karyawan tata usaha, gambar-gambar, halaman sekolah dan lain-lain.[3]
Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dapat dilihat dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa: “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.[4]
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana program pendidikan yang disediakan bagi siswa yang berisi tentang tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Secara sederhana, manajemen kurikulum dapat diartikan sebagai proses pencapaian tujuan sebuah kurikulum yang dilakukan sekelompok orang yang menjalankan fungsi-fungsi manajemen, mulai dari proses perencanaan kurikulum, pengorganisasian kurikulum, implementasi kurikulum hingga evaluasi atau control dari seorang manajer atas kurikulum yang diterapkan di lembaga pendidikan. Manajemen dapat dikatakan berjalan dengan baik apabila fungsi-fungsi manajemen dijalankan oleh manajer dan anggotanya secara cooperative. Begitu pula apabila prinsip manajemen diterapkan dalam kurikulum. Diharapkan fungsi-fungsi manajemen tersebut dapat menciptakan sebuah kurikulum yang sesuai dengan sekolah bertaraf internasional. Di dalam lingkungan sekolah, kepala sekolah adalah manajer yang berhak atas penentuan dalam rangka pengambilan keputusan. Dengan menggunakan fungsi dan prinsip manajemen, diharapkan kepala sekolah dapat mengambil keputusan yang tepat untuk sebuah kurikulum yang sesuai dengan sekolah
bertaraf internasional.
B.     Manfaat atau pentingnya manajemen kurikulum
Pengembangan kurikulum harus dilandasi oleh manajemen berdasarkan pertimbangan-pertimbangan multidimensional sebagai berikut:
1.      Manajemen sebagai disiplin ilmu erat kaitannya dengan disipli ilmu lainnya.
2.      Para pengembang kurikulum mengikuti pola dan alur piker yang sinkron dengan pola dan struktur berpikir dalam manajemen.
3.      Implementasi kurikulum sebagai bagian integral dalam pengembangan kurikulum membutuhkan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan prosedur serta pendekatan dalam manajemen.
4.      Pengembangan kurikulum tidak lepas bahkan sangat erat kaitannya dengan kebijakan dibidang pendidikan, yang bersumber dari kebijakan pembangunan nasional, kebijakan daerah, serta berbagai kebijakan sektoral.
5.      Kebutuhan bisnis di sector bisnis dan industry.[5]
Berdasarkan berbagai pertimbangan-pertimbangan diatas, maka manajemen kurikulum sangat penting dilaksanakan.
C.     Ruang lingkup manajemen pengembangan kurikulum
Manajemen kurikulum merupakan hal terpenting dari studi kurikulum. Para ahli pendidikan tentu telah mengetahui bahwa studi pengembangan kurikulum merupakan suatu cabang disiplin ilmu pendidikan yang mengandung ruang lingkup yang sangat luas. Studi ini bukan saja mencakup kegiatan mempelajari dasar-dasarnya, tetapi juga mempelajari kurikulum yang dikembangkan dan dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan.
Manajemen pengembangan kurikulum pada dasarnya berkaitan dengan studi administrasi pendidikan, dimana fungsi supervise telah tercakup didalamnya. Untuk memudahkan kita mempelajari manajemen kurikulum maka ada baiknya kita kembali pada fungsi-fungsi manajemen, yakni: perencanaan, pelaksanaan, supervise, monitoring, dan evaluasi. Fungsi-fungsi lainnya seperti pengorganisasian, penggerakan motivasi, koordinasi, pembiayaan dan material, dimasukkan kedalam fungsi-fungsi pokok diatas.
a.       Perencanaan dan pengembangan kurikulum, dalam konteks ini akan dipelajari masalah perencanaan kurikulum dan pengembangan selanjutnya penting mendapat perhatian, karena terkait erat dengan factor-faktor mendasar, peran berbagai pihak dan metodologi pengembangan itu sendiri, sehingga merupakan suatu proses keseluruhan kegiatan dan pengembangan kurikulum.
b.      Pelaksanan kurikulum. Bidang ini penting dipelajari, sebab erat kaitannya dengan keterlaksanaan kurikulum di sekolah atau lembaga pendidikan dan latihan. Peran administrator (kepala sekolah) dan guru mendapat sorotan lebih tajam, dalam artian administrative.
c.       Supervisi pelaksanaan kurikulum. Bidang ini penting dibahas agak lebih mendasar dan meluas, sebab erat kaitannya dengan upaya pembinaan dan pengembangan kemampuan personal sekolah, yang mendapat tanggung jawab prose pelaksanaan kurikulum, dan dengan cara bagaimana mereka seharusnya dipersiapkan agar mampu bertindak sebagai supervisor.
d.      Pemantauan dan penilaian kurikulum. Bidang ini perlu dibahas karena peran dan fungsinya sangat penting dalam rangka pengembangan, pelaksanaan, supervise dan perbaikan kurikulum.
e.       Perbaikan kurikulum. Bidang ini penting mendapat perhatian sebab erat kaitannya dengan upaya membina relevansi pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan sejalan dengan perkembangan masyarakat secara menyeluruh, yang pada akhirnya dapat dikembangkan suatu kurikulum yang lebih baik.
f.       Desentralisasi dan sentralisasi pengembangan kurikulum perlu dikaji lebih lanjut berkaitan dengan desentralisasi pengelolaan pendidikan oleh pemerintah daerah.
g.      Masalah ketenagaan dalam pengembangan kurikulum serta model kepemimpenan yang serasi pada konteks masyarakat yang berkembang dinamis dewasa ini.[6]

D.    Manajemen kurikulum dan system pembelajaran
Manajemen kurikulum dan system pembelajaran meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanan, dan penilaian serta keseluruhan proses penyelenggaraan yang bertujuan agar seluruh kegiatan pembelajaran terlaksana secara berhasil guna dan berdaya guna.
Secara oprasional, manajemen kurikulum dan system pembelajaran menyangkut tiga fungsi manajerial, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian.
1.      Perencanaan menyangkut penetapan tujuan dan memperkirakan cara pencapaian tujuan tersebut. Perencanaan merupakan fungsi sentral dari administrasi pembelajaran dan harus berorientasi ke masa depan. Dalam pengambilan dan pembuatan keputusan tentang proses pembelajaran, guru sebagai manajer pembelajaran harus melakukan berbagai pilihan menuju tercapainya tujuan. Guru sebagai manajer pembelajaran harus mampu mengambil keputusan yang tepat untuk mengelola berbagai sumber, baik sumber daya, sumber dana, maupun sumber belajar untuk mencapai tujuan proses pembelajaran yang telah ditetapkan.
2.      Pelaksanaan atau sering juga disebut implementasi adalah proses yang memberikan kepastian bahwa proses belajar mengajar telah memiliki sumber daya manusia dan sarana prasarana yang diperlukn, sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam fungsi pelaksanaan ini termasuk didalamnya kegiatan pengorganisasian dan kepemimpinan yang melibatkan penentuan berbagai kegiatan, seperti pembagian pekerjaan kedalam berbagai tugas khusus yang harus dilakukan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam fungsi manajerial pelaksanaan proses pembelajaran, selain tercakup fungsi pengorganisasian terdapat pula fungsi kepemimpinan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Dubrin (1990), bahwa fungsi pelaksanaan merupakan fungsi manajerial yang mempengaruhi pihak lain dalam upaya mencapai tujuan, yang akan melibatkan berbagai proses antarpribadi, misalnya bagaimana memotivasi dan memberikan ilustrasi kepada peserta didik, agar mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
3.      Pengendalian atau ada juga yang menyebut evaluasi. Pengendalian bertujuan menjamin kinerja yang dicapai sesuai dengan rencana atau tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses manajerial  perlu dibandingkan kinerja actual dengan kinerja yang telah ditetapkan (kinerja standar). Guru sebagai manajer pembelajaran harus mengambil langkah-langkah atau tindakan perbaikan apabila terdapat perbedaan yang signifikan atau adanya kesenjangan antar proses pembelajaran actual didalam kelas dengan yang telah direncanakan.[7]
Selain itu, seorang manajer diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan serta melakukan pengawasan dalam pelaksanaannya. Dan seorang manajer diharapkan juga untuk tidak membatasi diri pada pendidikan, dalam arti ia harus menghubungkan program-program madrasah atau sekolah dengan seluruh kehidupan peserta didik, kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Dalam buku lain dijelaskan beberapa kegiatan manajemen kurikulum yang dititikberatkan pada usaha-usaha penbinaan situasi belajar-mengajar di sekolah agar selalu terjamin kelncarannya.
Kegiatan manajemen kurikulum yang terpenting dapat disebutkan dua hal yakni:
a.       Kegiatan yang amat erat kaitannya dengan tugas guru.
Kegiatan ini meliputi:
1.      Pembagian tugas mengajar.
2.      Pembagian tugas atau tanggung jawab dalam membina ekstrakurikuler.
3.      Koordinasi penyusunan persiapan mengajar.
b.      Kegiatan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar.
Kegiatan ini meliputi:
1.      Penyusunan jadwal pelajaran
2.      Penyusunan program (rencana) berdasarkan satuan waktu tertentu (caturwulan, semester, tahunan).
3.      Pengisian daftar kemajuan murid.
4.      Penyelenggaraan evaluasi hasil belajar.
5.      Laporan hasil evaluasi.
6.      Kegiatan bimbingan penyuluhan.[8]
Untuk menjamin efektifitas pengembangan kurikulum dan system pembelajaran, kepala sekolah sebagai pengelola program pembelajaran bersama tenaga kependidikan lain harus menjabarka isi kurikulum secara lebih rinci dan oprasional ke dalam program tahunan, semester dan bulanan. Adapun program mingguan wajib dikembangkan oleh guru sebelum melakukan kegiatan pembelajaran. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
a)      Tujuan yang hendak dicapai harus jelas, makin oprasional tujuan, makin mudah terlihat dan makin tepat program yang dikembangkan untuk mencapai tujuan.
b)      Program harus sederhana dan fleksibel.
c)      Program-program yang dikembangkan harus sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
d)     Program yang dikembangkan harus menyeluruh dan jelas pencapaiannya.
e)      Harus ada koordinasi antarkomponen pelaksana program di madrasah atau sekolah.[9]
Oleh karena itu perlu dilakukan pembagian tugas tenaga kependidikan, penyusunan kalender pendidikan dan jadwal pelajaran, pembagian waktu yang digunakan, penetapan pelaksanaan evaluasi belajar, penetapan penilaian, penetapan norma kenaikan kelas, pencatatan kemajuan peserta didik, serta peningkatan pembelajaran dan pengisian waktu jam kosong.
 IV.            ANALISIS
Dewasa ini etos profesionalisme dan asas kemapanan sudah menjadi keharusan dalam setiap lembaga public service, temasuk lembaga pendidikan.
Hal ini karena tidak lepas bahkan sangat erat kaitannya dengan kebijakan dibidang pendidikan, yang bersumber dari kebijakan pembangunan nasional, kebijakan daerah, serta berbagai kebijakan sektoral.
Kecenderungan  pemerintah yang menitik beratkan mekanisme pasar sebagai  landasan kebijakan, mengharuskan tiap-tiap penyelenggara pendidikan formal untuk mengikuti ritme trend sosial dan perkembangan teknologi informasi untuk mempertahankan peningkatan mutu pendidikan serta pencapaian tujuan sebuah kurikulum. Sebab, jika suatu lembaga pendidikan hari ini masih mengesmpingkan aspek-aspek di atas dapat dipastikan lembaga tersebut lambat laun akan lebur tergerus perubahan zaman dan akhirnya akan runtuh.
Mengingat kebutuhan pola pikir yang terstuktur dalam peningkatan mutu pendidikan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, supervisi, monitoring, dan evaluasi. Fungsi-fungsi lainnya seperti pengorganisasian, penggerakan motivasi, koordinasi, pembiayaan dan material maka pemangku pengendali utama satuan pendidikan (dalam hal ini kepala sekolah) wajib meng up grade dan merekayasa sistem pendidikan yang ia pangku sedemikian rupa agar daya tawarnya sesuai kebutuhan pasar sehingga proses kegiatan pembelajaran dapat terus berjalan dan berkembang.
Selain kebutuhan pasar aspek sosio-kultural  juga patut menjadi pertimbangan dalam pemilihan menejemen kurikulum. Hal ini untuk menhindari adanya miskonstelasi antara tujuan pendidikan dan mplementasi stategi pendidikan. Sebab jika hal ini tidak di indahkan maka sbaik apapun bentuk planning dari satuan pendidikan tersebut hanya akan berbuah kesia-sian dan lagi-lagi peserta didiklah yang akan menjadi korban dari mala praktik manajemen pendidikan tersebut.

    V.            KESIMPULAN
Secara sederhana, manajemen kurikulum dapat diartikan sebagai proses pencapaian tujuan sebuah kurikulum yang dilakukan sekelompok orang yang menjalankan fungsi-fungsi manajemen, mulai dari proses perencanaan kurikulum, pengorganisasian kurikulum, implementasi kurikulum hingga evaluasi atau control dari seorang manajer atas kurikulum yang diterapkan di lembaga pendidikan. Manajemen dapat dikatakan berjalan dengan baik apabila fungsi-fungsi manajemen dijalankan oleh manajer dan anggotanya secara cooperative. Begitu pula apabila prinsip manajemen diterapkan dalam kurikulum.
Beberapa menfaat atau pentingnya manajemen pengembangan kurikulum antara lain:

1.      Manajemen sebagai disiplin ilmu erat kaitannya dengan disipli ilmu lainnya.
2.      Para pengembang kurikulum mengikuti pola dan alur piker yang sinkron dengan pola dan struktur berpikir dalam manajemen.
3.      Implementasi kurikulum sebagai bagian integral dalam pengembangan kurikulum membutuhkan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan prosedur serta pendekatan dalam manajemen.
4.      Pengembangan kurikulum tidak lepas bahkan sangat erat kaitannya dengan kebijakan dibidang pendidikan, yang bersumber dari kebijakan pembangunan nasional, kebijakan daerah, serta berbagai kebijakan sektoral.
5.      Kebutuhan bisnis di sector bisnis dan industry.
Untuk mengetahui ruang lingkup manajemen pengembangan kurikulum, maka ada baiknya kembali mengingat pada fungsi-fungsi manajemen  yakni: perencanaan, pelaksanaan, supervise, monitoring, dan evaluasi. Fungsi-fungsi lainnya seperti pengorganisasian, penggerakan motivasi, koordinasi, pembiayaan dan material, dimasukkan kedalam fungsi-fungsi pokok diatas.

 VI.            PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat penulis susun. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran selalu penulis harapkan. Akhir kata, penulis minta maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.



























DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010
Khaerudin,  Kurikulum Satuan Pendidikan Madrasah, Jogjakarta : Pilar Media, 2007
Mulyasa, Pedoman Manajemen Berbasis Madrasah, Bandung: 2003
Syukur, Fatah Manajemen Pendidikan Berbasis pada madrasah,Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2011
Suryossubroto, Manajemen Pendidikan di Sekolah, Jakarta, PT Rineka Cipta, 2004



[1] Fatah Syukur, Manajemen Pendidikan Berbasis pada madrasah,(Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2011), hlm 7-8
[2] Khaerudin,  Kurikulum Satuan Pendidikan Madrasah, (Jogjakarta : Pilar Media, 2007), hlm 12
[3] Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010) hlm 10
[5] Oemar Hamalik, Op.Cit., hlm 17-18
[6] Ibid.,hlm 21-22
[7] Mulyasa, Pedoman Manajemen Berbasis Madrasah, (Bandung: 2003), hlm 42-43
[8] Suryosubroto, Manajemen Pendidikan di Sekolah, (Jakarta, PT Rineka Cipta, 2004), hlm 42
[9] Mulyasa, Op.Cit, hlm 44-45

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar